Idul Fitri atau Lebaran memang masih tiga bulan lagi. Tetapi tidak ada salahnya bila kita mengintip sedikit kesiapan infrastruktur jalan dan jembatan dalam menghadapi libur lebaran atau mudik. Mudik merupakan pekerjaan yang luar biasa, jutaan orang meninggalkan tempat mereka tinggal dan bekerja kembali ke kampung halamannya. Jutaan orang harus difasilitasi dengan baik agar perpindahan massal ini dapat berjalan lancar, maka infrastruktur pendukung harus siap dan dalam kondisi baik.
Meskipun Indonesia merupakan negara kepulauan, mudik menggunakan jalur darat tetap merupakan primadona. Ribuan kendaraan, bus, mobil maupun sepeda motor akan memadati jalan-jalan yang menghubungkan kota besar dengan kota kecil. Jutaan orang akan menggunakan jalan darat, menempuh ribuan kilometer pergi-pulang. Saya berkesempatan untuk mengintip kesiapan infrastruktur jalan yang mengubungkan Jakarta dan Jawa Tengah. Saya melewati jalur selatan untuk perjalanan dari Jakarta ke Jawa Tengah (Purwokerto) dan lewat Utara-Tengah dari Jawa Tengah (Purwokerto – Jakarta).
Perjalanan saya mulai hari Jum’at tengah hari dari Toll BSD – JORR yang kemudian dilanjutkan dengan Toll Jakarta-Cikampek. Relatif tidak ada hambatan berarti pada bagian ini, kemudian melewati toll Purbaleunyi. Total waktu tempuh saya pada bagian perjalanan ini adalah 2 jam. Keluar dari pintu tol cileunyi, perjalanan saya lanjutkan ke arah selatan Jawa Barat, yaitu Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar.
Hambatan pertama saya temui di ruas Cicalengka menuju Nagreg yang sedang dilakukan betonisasi jalan di kedua arah. Jalan yang terdiri dari dua lajur, hanya bisa dilewati satu lajur yang belum dilapis dengan beton, sedang lajur kedua sudah dilapisi beton hanya saja belum dapat digunakan. Semoga dalam waktu tiga bulan mendatang, proyek betonisasi jalan ini dapat rampung dan tidak menambah kemacetan di ruas Cicalengka-Nagreg yang memang merupakan wilayah rawan kemacetan pada saat mudik lebaran. Selepas ruas Cicalengka-Nagreg, perjalanan relatif tidak menemui hambatan, jalan yang adapun masih terbilang mulus, kecuali disebagian kecil kota Ciamis yang sedikit berlubang. Hingga perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah, tidak ada ditemui adanya jalan yang mengalami kerusakan parah, semua dapat dilalui dengan baik.
Memasuki wilayah propinsi Jawa Tengah, ada perbedaan kondisi jalan yang sangat mencolok, dari jalan-jalan beraspal mulus berganti menjadi jalan penuh lubang, laju kendaraan pun berubah drastis, ditambah lagi dengan banyaknya truk bermuatan yang melebih kapasitas, membuat kerusakan makin bertambah parah dijalan ini. Mulai dari Wanareja – Majenang – Sidareja hingga Lumbir, lubang-lubang yang beberapa diantaranya cukup dalam menghiasi wilayah ini. Pengemudi diharapkan untuk berhati-hati terlebih bila mengendara dimalam hari. Terlihat dibeberapa ruas jalan sedang dilakukan perbaikan, namun mengingat panjangnya jalan yang rusak, sepertinya waktu yang ada tidak cukup untuk memperbaiki jalan yang rusak menjelang libur lebaran nanti.
Keesokan harinya saya meninggalkan Jawa Tengah menuju Jakarta. Mengingat kondisi lintas selatan yang cukup parah kondisinya, saya memutuskan untuk menuju utara. Dari Purwokerto melewati Ajibarang, Bumiayu, Prupuk, Brebes, Ketanggungan dilanjutkan dengan tol Pejagan – Kanci lalu Kanci – Palimanan. Saya memutuskan untuk keluar di Ciperna untuk melanjutkan perjalanan mendaki kaki gunung Ciremai menuju Kuningan, Majalengka, Sumedang, Cikamurang lalu Sadang dan dilanjutkan dengan toll Cikampek menuju Jakarta.
Saya meninggalkan Purwokerto selepas makan siang, sepanjang Purwokerto hingga Bumiayu jalan cukup baik, meskipun ada kerusakan dibeberapa titik, terutama jembatan, tetapi masih bisa dilalui dengan kecepatan sedang. Yang patut diwaspadai adalah adanya pasar tumpah ketika lebaran nanti, yaitu pasar di Ajibarang dan Bumiayu. Ketika saya melintas, tampak bekas adanya jalan longsor yang sedang diperbaiki, jalan ini dapat dilalui oleh kendaraan kecil. Memasuki Brebes, awalnya kondisi jalan baik dan bisa dilalui dengan kecepatan tinggi, menjelang Ketanggungan, banyak jebakan siap menunggu setiap pengemudi yang kurang berhati-hati. Lubang cukup lebar dan dalam terdapat di banyak titik dan beberapa dalam perbaikan.
Yang patut digaris bawahi juga adalah buruknya konstruksi tol Pejagan – Kanci. Berkendara dijalan bebas hambatan ini melelahkan karena konstruksi dari beton yang tidak rata sehingga getaran cukup keras terasa. Selepas tol Pejagan – Kanci dilanjutkan dengan tol Palimanan – Kanci, di tol ini saya mengambil exit Ciperna ke arah Kuningan. Hingga exit ini, tol Palikanci cukup baik dan bisa dilalui dengan kecepatan tinggi. Begitu juga kondisi jalan di Cirebon mengarah ke Kuningan yang relatif baik meskipun mendaki. Saya sengaja menghindari jalur pantura Jawa Barat. Hal ini berdasarkan info yang beredar di mailing list otomotif yang saya ikut menyebutkan kondisi jalur pantura cukup parah dengan adanya perbaikan jalan dan jembatan dibeberapa titik. Info terakhir yang saya terima berkaitan kondisi jalan di Pantura, Salatiga-Cikampek membutuhkan waktu 12 jam lebih.
Jalur Kuningan-Majalengka-Sumedang relatif dalam kondisi baik meskipun menanjak dan berkelok. Untuk memperpendek jarak tempuh, saya mengambil jalur tengah Cikamurang-Subang-Sadang. Jalur ini sebagian besar dalam kondisi baik, titik yang biasanya rusak parah sudah dibeton sehingga bisa dilalui dengan lancar. Sementara sebagian lagi masih butuh perbaikan, namun tidak terlalu banyak.
Dengan kondisi lapangan yang ada, lebaran yang sudah didepan mata, merupakan pekerjaan yang cukup berat untuk kementrian pekerjaan umum, terutama direktorat bina marga dan kementrian perhubungan untuk memastikan bahwa ritual tahunan mudik lebaran dapat terselenggara dengan baik.